Posted by: baitiqurani | 6 September 2010

Saat-saat pertama

mitsaqan ghalizaSaat kita menikah, orang-orang akan ramai mengiringi kita dalam gegap gempita kegembiraan. Namun, saat kita mulai menarik jangkar dan melajukan bahtera kita, gemuruh kegembiraan itu lambat-laun akan melemah. Dan akhirnya saat bahtera kita berada di tengah samudera luas, yang ada hanya kita berdua. Bagaimana laju bahtera itu selanjutnya, bergantung penuh pada kau sebagai nakhoda pemimpinku dan aku sebagai satu-satunya awak kapalmu yang setia. Semoga bahtera kita sampai dengan selamat di surga dengan rahmatNya. Aaamiinn…

Pertama kali saat menginjakkan kaki di dunia yang baru ini, mungkin akan banyak rasa yang kita rasakan dan banyak hal yang kita pikirkan. Campur-campur. Semua rasa jadi satu. Tapi ada satu rasa yang mendominasi saat itu: ketenangan, kedamaian.

Seperti pikiran saya saat itu, antara percaya tidak percaya, antara mimpi dan nyata…ternyata saya sudah jadi istri orang sekarang. ^ ^

Saat-saat pertama itu, banyak hal baru yang akan kita rasakan. Ada yang membuat kita terkejut, ada yang biasa saja, ada pula yang membuat kita melegakan diri karena terpuaskan rasa ingin tahu yang sebelumnya ada. Oh, begini tho ternyata…

Saat-saat itu adalah saat-saat yang paling berharga. Saat sepasang muda-mudi yang telah halal baru saja melepaskan status lajang mereka dan siap untuk mulai saling mengenal, saling memahami, saling memiliki, saling menyayangi. Karena baru saja mulai saling mengenal secara langsung, nyata, physically, akan banyak hal-hal baru yang dirasakan, berbeda dengan taraf mengenal saat ta’aruf. Saat ini, pengenalan benar-benar dilakukan secara mendalam, face-to-face, heart-to-heart, bak seorang penyelam yang menyelam kedalam lautan untuk mencari mutiara setelah sebelumnya belajar tentang medan penyelaman.

Rasa dan sentuhan.  Saya rasa, itulah yang membedakan. Dulu saat ta’aruf tidak mungkin kami mengumbar rasa, apalagi menyentuh. Tapi setelah Allah menghalalkan semuanya, maka berhamburanlah segala rasa yang dikaruniai olehNya pada kami berdua. Subhanallah…

Apalagi setelah sentuhan pun sudah dihalalkan, segala rasa itu semakin deras mengalir ke dalam jiwa kami melalui sentuhan-sentuhan itu. Rasa percaya dan rasa memiliki, spontan terbentuk dalam sanubari kami. Aku mencintaimu karena Allah, suamiku…

Begitulah, saat semua sudah dihalalkan olehNya. Alhamdulillah…

[Fita]

15.01 p.m


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: